Princess mentality, masihkah relevan?

Sudah lama banget gak posting tulisan di blog karena rempong pindahan apartment pertengahan Oktober lalu. Pindahan saat normal itu sudah ribet apalagi saat pandemik begini. Nanti saya ceritakan pengalaman pindahan di Swiss yang mahal pasti ongkosnya hahaha. Kali ini saya pengen nulis tentang perempuan bertepatan dengan kampanye dunia menentang kekerasan berbasis jender 15 November – 10 Desember 2020 (UN WOMEN).

Kalian suka nonton film Disney Princess gak? Kalo saya dulu sering karena menemani ponakan-ponakan kecil nonton. Tapi selalu ada yang mengganjal di hati terutama tentang akhir ceritanya. Puteri-puteri dalam film-film itu selalu diselamatkan dan dinikahi sang pangeran lalu hidup bahagia selamanya. Hampir semua ceritanya seperti itu terutama yang berasal dari Eropa seperti Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, Beauty and the Beast, Rapunzel. Puteri-puteri lainnya seperti Ariel, Jasmine, Pocahontas, Mulan dan Moana sedikit berbeda ceritanya. Sepertinya cerita puteri-puteri dari Eropa itu ditulis di abad pertengahan sampai abad ke 18.  Masihkan relevan dengan dengan perempuan abad 21?

Kalau menurut saya sudah ketinggalan zaman, memperdaya perempuan daripada memberdayakan, dua hal yang sangat jauh berbeda walaupun kedengarannya hampir sama. Pernikahan dianggap pencapaian tertinggi perempuan dan akan menyelamatkan hidupnya. Dengan menikah semua urusan dan masalah selesai. Padahal kebanyakan kasus kekerasan terhadap perempuan dilakukan oleh pasangannya. Menurut UN WOMEN, satu dari tiga perempuan di dunia mengalami kekerasan fisik atau seksual yang kebanyakan dilakukan oleh pasangannya. Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan adalah sebuah pelanggaran hak azasi manusia dan dampaknya (jangka pendek atau panjang) dapat merusak  fisik, seksual dan mental mereka termasuk kematian. Menurut UN Agency ini, 137 perempuan dibunuh oleh anggota keluarganya setiap hari. Diperkirakan 87,000 perempuan dibunuh dengan sengaja di tahun 2017 secara global. Lebih dari sepertiga pelaku pembunuhan perempuan-perempuan itu adalah pasangan atau bekas pasangannya. Mengerikan sekali ya, menikah buat perempuan bisa jadi risiko kehilangan nyawa! Meskipun demikian kesuksesan perempuan abad ini, terutama dalam tatanan budaya kita, masih diukur dari status pernikahan dan keibuannya. Pertanyaan yang selalu dilontarkan pada perempuan: kapan menikah?sudah punya anak?kapan tambah anak lagi? Saya heran mengapa semua orang baik keluarga, saudara, kerabat, teman kadang kolega harus sibuk mengurusi repoduksi perempuan? Tidakkah perempuan berhak menentukan ingin menikah atau tidak, ingin punya anak atau tidak tanpa tekanan dari orang-orang disekitarnya?  Menurut saya perempuan harus dapat memutuskan sendiri kapan dan dengan siapa dia menikah. Hal yang paling penting baginya adalah memilih calon pasangan yang bisa mengasihi dan menghormatinya. Menikah harus berlandaskan kemitraan dan kesetaraan, bukan legalisasi perbudakan atau penindasan terhadap perempuan. Dalam tulisan saya sebelumnya, sudah pernah saya bagikan laporan EU tentang masalah ketidaksetaraan jender di Eropa yaitu upah/gaji perempuan. Salah satu penyebab adalah waktu yang lebih banyak dihabiskan perempuan untuk pekerjaan tanpa upah/gaji yaitu mengurus pekerjaan rumah tangga.

Untuk konteks yang lebih spesifik, kebanyakan orang dalam budaya kita bahkan kaum perempuan itu sendiri perpandangan bahwa perempuan yang menikah dengan laki-laki yang berasal dari negara-negara maju (bule istilahnya) dianggap sudah pasti mapan dan bakal senang hidupnya. Tidak perlu lagi hidup susah dan bekerja keras, tinggal duduk-duduk cantik di rumah seperti puteri. Ya, itulah yang saya maksud dengan princess mentality. Padahal tidak selalu begitu kenyataannya, tidak semua laki-laki bule itu kaya raya ataupun memperlakukan pasangannya dengan baik. Kalau saya sendiri memilih menikah dengan suami karena dia bisa mengasihi dan menghormati saya. Kami berbagi pekerjaan rumah tangga dan tanggungjawab yang cukup setara. Dia bekerja dan saya juga. Saya merasa tidak perlu diselamatkan oleh siapapun. Intinya perempuan harus mandiri sehingga ketergantungan pada orang lain dalam hal ini suami bisa berkurang. Pemberdayaan perempuan harus dimulai dari kemandirian finansial, sehingga perempuan mempunyai pilihan dan kekuasaan untuk menentukan hidupnya. Dengan demikian tidak perlu bertahan dalam hubungan atau rumah tangga yang penuh dengan kekerasan atau hanya karena alasan finansial. Pendidikan dan kemandirian perempuan adalah kunci utama. Sudah waktunya berpendirian bahwa yang bisa merubah dan menyelamatkan hidup perempuan itu adalah dirinya sendiri dan saying goodbye to princess mentality, we are 21st century women! Menurut kalian bagaimana?



8 thoughts on “Princess mentality, masihkah relevan?”

  • Di Denmark tempat saya tinggal, sempat beberapa waktu lalu diumumkan data statistik perempuan imigran non EU yang tidak bekerja yang jelas diatas 70%. Alasannya tentu seputar mengurus keluarga, punya anak banyak, tidak dibolehkan suami dst (kebanyakan perempuan ini berasal dari negara Afrika atau Arab, yang memang kulturnya sangat patriarkis, jadi jika suami tidak membolehkan bekerja – padahal suaminya sendiri kebanyakan juga on the dole (dapat bantuan sosial).

    Di Indonesia kulturnya padahal tidak begitu, perempuan lebih punya kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri, bisa bekerja atau ngga, walaupun masi banyak juga suami2 yang merasa “terhina” kalau istrinya kudu bekerja (??) karena dianggap tidak mampu menafkahi, tapi memang mentalitas yang nikah sama orang asing itu memang banyak yang princess mentality. Sampai kadang bikin malu jika kumpul2 dengan teman dengan negara lain, dimana para princess ini berkoar2 dengan bangganya bahwa mereka tidak perlu bekerja karena suaminya menafkahin mereka (padahal suaminya juga bukan tajir melintir, biasa aja).

    Buat saya bekerja (diluar rumah) itu bukan cuman soal uang, tapi juga pencapaian pribadi, tapi tentunya setiap perempuan punya bayangan beda2 apa pencapaian pribadi mereka (seperti yang mba bilang diatas, pencapaiannya ada yang mentok sampai menikah dan ada yang ngurusin aja).

    • Betul, perempuan tidak diberikan kesempatan atau kebebasan untuk memilih dalam budaya sangat patriarkis. Perempuan Indonesia bernasib lebih baik karena bisa memilih dan punya kesempatan jika mereka mau mandiri.

      Pembunuhan terhadap perempuan (femicide) yg dilakukan orang-orang terdekatnya atau kekerasan seksual pada perempuan itu sangat mengerikan. Justifikasi para pelaku kekerasan dan pembunuhan itu adalah karena korban seorang perempuan. Tidak semua negara menganggap isu ini penting. Di negara kita UU nya pun belum di sahkan. Sementara menurut UN Women, salah satu masalah jender di Indonesia adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.

      Kalau perempuan berpandangan bahwa pencapaian tertinggi adalah ketika ada yg ngurusin saja mereka berada pada situasi rentan. Saat org yg seharusnya melindunginya itu melakukan kekerasan mereka tidak bisa melawan atau melindungi diri atau bahkan dibunuh.

  • Dan anak-anak sudah diajarkan untuk menonton ini sedari kecil, untuk bermimpi bertemu princenya satu hari nanti. Mimpi yg terus-menerus dipupuk ini kemudian rusak ketika melihat pasangannya ternyata tak seperti di film-film. Makanya penting sekali jadi perempuan itu mesti bisa mandiri, bisa punya pencapaian sendiri tanpa tergantung pada orang lain.

    • Very-well said! Betul, ketergantungan dalam hal ini pada pasangan yang membuat byk perempuan bertahan dalam hubungan atau rumah tangga yang penuh kekerasan Ailtje, miris ya. Thx udh mampir ya.

  • Keren banget tulisan nya kak! Semoga wanita – wanita diluar sana masih bisa menentukan hidup mereka ya kak! Menikah atau tidak menikah itu pilihan kita dan yang menentukan kebahagian kita adalah diri sendiri.

    Btw, baru aja kejadian beberapa hari yg lalu. Ada coustomer ibu2 bawa anak kecil 1 dateng ke kantor dan pas lagi disuruh nunggu tanyain aku “mbaknya sudah nikah belum?” aku jawab “belum”
    Terus dijawab lagi “kenapa belum? Nikahlah mbak”
    Kenal juga nggak tiba2 disuruh nikah😂

  • Hai Malikah, baru saja aku follow blogmu langsung tertarik komen topik ini.
    Setelah kuingat2, aku ternyata bukan penggemar film princess2, jadi tidak terlalu ngeh jalan ceritanya seperti apa dan baru tahu kalau benang merahnya nyaris sama ya. Beberapa film yang kamu sebutkan di atas malah belu. pernah kutonton. Ada baiknya juga hidup di kota kecil jadi ga terpapar film2 tersebut haha.
    Sosok yang selama ini paling dekat menginspirasiku tentang kemandirian adalah Ibuku sendiri. Beliau bekerja sampai pensiun. Keuletan Beliau benar – benar sangat kuikuti. Ibu selalu bilang pada anak – anaknya sekaya apapun pasanganmu nanti, kamu harus punya uang sendiri, harus punya tabungan.

    • Thank you udh mampir dan komen ya Deni. Ya, lbh baik anak2 perempuan gk usah nonton deh klo tanpa bimbingin orang tua bahwa itu cuma cerita dongeng.

      Nah, semua ibu mustinya begitu ya mengajarkan anak perempuannya untuk mandiri jadi tidak terlalu tergantung pada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *