Rempongnya pindahan rumah

Sekitar 4 bulan lalu kami pindah ke apartment yang baru selesai dibangun pada musim gugur tahun 2020.  Mustinya pindahan di penghujung musim panas tapi akibat covid-19, pembangunan tertunda. Apartment baru ini  terletak di pinggiran kota, stasiun kereta api dan supermarket sangat dekat, hanya 2 menit berjalan kaki. Menggunakan kereta api perjalanan menuju stasiun utama Bern (Bahnhof) ditempuh dalam 13 menit saja,  cukup strategis lokasinya.  Kami tidak punya kendaraan dan bergantung pada transportasi publik kemana-mana. Hal ini memungkinkan di Swiss karena layanan transportasi publiknya terpercaya dan menjangkau pelosok negeri. Selain alasan bangunan yang masih baru (kami tenant pertama), kedekatan ke fasilitas transportasi dan harganya masih terjangkau menjadi alasan kami memilih apartment ini. Ada sekitar 3 apartement dalam tahap pembangunan yang kami kunjungi sebelum memutuskan untuk pindah ke tempat baru ini. 

Kepemilikan rumah/apartment di Swiss cukup rendah dibanding negara tetangga, sebuah paradoks untuk negeri kaya raya ini. Hanya setengah dari penduduk Swiss punya rumah sendiri sisanya ngontrak! Harga rumah atau apartment terlalu mahal dan cenderung tidak terjangkau. Dulu di apartment lama, tetangga kami seorang perempuan Swiss sebutlah namanya T,  berusia sekitar 30 tahun mengkonfirmasi situasi ini. T adalah mbak-mbak kantoran yang berasal dari keluarga biasa saja. Menurut T, dia tidak akan sanggup beli rumah dan apartement karena harganya terlalu mahal, dari nenek-kakek, orangtua sampai si T ini mereka selalu menyewa. Kecuali loe punya income cukup besar atau dapat warisan dari ortu, loe bisa dengan mudah beli properti katanya.

Apartment yang lama (1 kamar tidur) sudah terlalu sempit untuk 2 orang plus 1 ekor kucing, kami harus bekerja dari rumah dan tidak ada ruang yang cukup untuk itu. Selain itu toilet dan kamar mandi cuma satu, bagi saya punya 2 kamar mandi dan toilet itu penting banget! Kebanyakan bangunan lama di Swiss kamar mandi dan toilet cuma satu walaupun kamar tidurnya 2  bahkan 3. Waktu memilih apartment, jumlah kamar mandi dan toilet itu menjadi faktor utama. Apartment baru ini punya 2 kamar mandi dan toilet, 3 kamar tidur, luasnya 120m2 dengan balkon yang cukup besar (2om2).  Apartment saya di Jakarta berukuran setengahnya  (66m2), saya renovasi dan punya 2 kamar mandi dan toilet karena dulu adik ikut saya waktu kami masih sama-sama single.  Tidak perlu ngantri pagi-pagi untuk mandi dan urusan mendesak (biologis) lainnya sebelum berangkat ke kantor. Saya menginginkan hal yang sama dengan suami, privasi dan kebebasan menggunakan kamar mandi dan toilet masing-masing hahaha.

3 bulan sebelum pindah kami sudah mulai mencari moving company karena pindahan sendiri itu repot dan melelahkan banget! Bagian yang tersulit adalah membongkar, memindahkan dan memasang kembali furnitur. Di Swiss penyewaan apartment biasanya non-furnish jadi kemana-mana pindah furnitur harus dibawa. Rata-rata moving company yang affordable dikelola orang-orang dari timur tengah atau afrika utara, ada juga yang dikelola orang Swiss tapi mahal banget. Kami mencoba menghubungi tiga moving company (www.fagbase.ch – herzumzug.ch – www.starmalin.ch) dengan harga hampir sama yaitu sekitar CHF 2,000 meliputi jasa bongkar-pasang furnitur, transportasi barang termasuk sewa truk/lorry, general cleaning apartment lama dan disposal sampah-sampah besar seperti furnitur lama yang rusak. Setelah mempertimbangkan dengan matang dan bertemu pemiliknya kami memutuskan memakai jasa moving company fagbase. 2 bulan sebelum hari H pindahan, barang-barang sudah disusun rapi dalam kardus IKEA  ukuran maximal 30 Kg.  Waktu pindah kami membawa sekitar 30 kardus berisi 50-75 persen kapasitasnya. Sudah banyak barang yang disortir dan dibuang karena kami hidup minimalis dan pragmatis, tidak mau memiliki barang kalau tidak berguna atau cuma jadi clutter.

Acara pindahan berjalan lancar,  semua pekerjanya (3 orang) menggunakan masker dan tidak ada barang yang rusak. 2 hari sebelum hari H, mulai nyicil pindahan dan menginap di apartment baru. Seminggu sebelumnya suami cuti dan mengawasi kedatangan dan pemasangan furnitur yang kami beli. Sebagian furnitur baru dipasang sendiri oleh suami agar lebih ekonomis. Berdasarkan pengalaman pindahan kami yang tergolong mudah karena tidak banyak barang, nyicil pindahan dan perencanaan yang matang itu membuat semua jadi lebih ringan dan less stressful. Di apartment baru ini kami sangat selektif memilih barang, penataan dan dekornya minimilist agar gampang membersihkan dan merapikannya. Pandemik ini mengajarkan kita bahwa rumah adalah tempat paling aman, jadi harus ditata senyaman mungkin ya gak sih?  

 

 



4 thoughts on “Rempongnya pindahan rumah”

  • Aku dan suami juga kepikiran mau beli apartemen yang lebih besar, tapi ya harga apartemen di masa pandemi justru naik gila2an di Copenhagen, jadi kami memutuskan untuk tunggu dulu. Apartemen kami yang sekarang ini asalnya ya apartemen milik saya yang dulu saya beli ketika masi single alias 2 kamar saja (60 m2), yang kami rasa terlalu kecil untuk berdua. Masalahnya kami suka banget neighbourhood yang sekarang, dan harga apartemen baru di tempat kami tinggal sekarang ini cukup tinggi dibanding daerah yang aga pinggiran (kami tinggal di zone 1 alias downtown, walaupun ga downtown2 amat), dua metro stasiun yang selemparan kolor dan pantai yang tinggal ngesot dari rumah. Jadi kami memutuskan untuk mengumpulkan duit lebih banyak dan tunggu market agak stabil dulu.

    Disini sama juga, rata2 profesional muda pun agak susah beli apartemen pertama, ga kebayang yang gajinya minimum, udah ngga bisa tinggal di Copenhagen lagi. Miris memang, sementara apartemen sewa yang dikelola negara (baca: mirip rumah susun/rusun di Indonesia) pun waiting listnya 20-30 tahun. Apartemen sewa yang banyak sekarang adalah apartemen yang sewanya selangit, yang lagi2 orang dengan upah minimum tidak mampu. Urusan tempat tinggal ini memang ribet sih.

    • Hi Eva, thanks sudah mampir ya. Copenhagen juga kota yang mahal, kebayang deh susahnya mau beli rumah disana. Kalo disini Zurich dan Geneva yang lebih gila2an mahalnya. Makanya kami menetap di Bern aja walaupun kantorku di Geneva, cukup jauh untungnya bisa wfh.

      Ya ada plus minusnya tinggal di downtown vs suburb. Awalnya males banget mau pindah karena terbiasa tinggal di kota yg ramai. Tapi tidak ada yg affordable buat kami ditengah kota. Tinggal di suburb ternyata not bad juga asal ke stasiun kereta atau supermarket tinggal melipir dikit nyampe.

      Kayaknya dimana2, generasi kita lebih susah utk beli rumah dan punya properti dibanding generasi orangtua kita. Karena harga yang sudah terlalu tinggi dan tak terjangkau.

  • Hai Malikah, selamat menempati rumah baru yaa. Pasti suasananya nyaman banget karena ke mana2 gampang tapi ga rame khas kota besar.

    Kami dulu tinggal di Apartemen di kota besar. Apartemen suami sebelum kami menikah. Apartemennya gede banget sampai kupikir semua apartemen di Belanda memang gede2 ukurannya haha terlalu polos. Ternyata suami sukanya dengan ruangan gede, sebelumnya dia tinggal di rumah. Setelah menikah, kami memutuskan pelan2 cari rumah karena waktu itu kami memang berencana untuk punya anak. Jadi kalau punya rumah, akan ada kamar lebih dan halaman yang bisa buat bermain atau juga bercocok tanam. Cari rumah itu seperti jodoh, kalau ga cocok, apapun jalannya, ya akan gagal. 2 tahun nyari santai, akhirnya dapat dgn rumah yang sekarang. Kami langsung suka saat pertama kali masuk buat lihat2. Bukan rumah baru, tapi karena penghuninya sangat merawat, jadinya masih sangat baik kondisinya. Apalagi letaknya di kampung yang strategis ke 3 kota besar dekat. Dekat dengan stasiun, kompleks perbelanjaan, RS, klinik dokter, kendaraan umum ke mana2 pun gampang. Makanya kami menyebut ini kampung rasa kota haha. Alhamdulillah sampai sekarang kami senang tinggal di sini. Sepi dan ya, kampung gitu, sunyi.

    • Hi Deni,
      Terimakasih udah mampir. Alhamdulillah, so far betah di tempat baru. Haha iya, Holland salah satu negara paling padat kan penduduknya ya. Tinggal di kota mana disana? Aku dulu pernah tinggal di Belanda 1.5 thn, waktu kuliah di Wageningen University. Itu kampung beneran, stasiun kereta api aja gak punya harus ke Ede. Tapi enaknya biaya hidup lebih murah daripada kuliah di Amsterdam atau Rotterdam kan. Selain itu kemana2 naik sepeda irit ongkos transport dan gampang gowesnya karena Belanda itu datar dimana2, klo di Swiss ini banyak bukit dan tanjakan, gempor hahaha.

      Enak ya kalau punya rumah dan ada halaman, bisa bercocoktanam dan kalau summer seru bbq dg keluarga dan teman-teman. Ya, Kedekatan dengan fasilitas publik kyk stasiun kereta api, faskes dan supermarket itu penting banget kalau tinggal di suburb. Ohya bicara tentang sepeda, enaknya di Belanda dimana2 ada jalur khusus jadi lebih nyaman. Kayaknya Belanda itu tempat paling ideal kalau mau bersepeda kemana-mana!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *