Pesona Negeri Maghribi – Rabat, perpaduan masa kini dan masa lalu

Di awal bulan ini tiga tahun lalu kami beruntung bisa pergi liburan ke Maroko selama 2 minggu. Dari semua tempat atau negara yang pernah kami kunjungi, Maroko adalah destinasi wisata paling menarik. Mungkin karena ini kunjungan perdana kami ke benua Afrika. Maroko terletak di Afrika Utara dan merupakan bagian dari wilayah yang disebut Maghreb yang artinya barat dalam Bahasa Arab atau tempat terbenamnya matahari. Wilayah ini terdiri dari Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya dan berbatasan dengan laut Mediterania. Setelah memilih travel itinerary terbaik dari segi waktu dan biaya akhirnya kami memutuskan untuk mendarat di Ibukota Maroko – Rabat. Tidak seperti Marrakesh yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara, Rabat lebih tenang dan sepi. Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam penerbangan dari Roma ke Rabat dengan pesawat RyanAir. Warga Indonesia tidak memerlukan visa untuk berkunjung kesana selama 120 hari. Saya menunggu agak lama di counter imigrasi, sekitar 15 menit, karena petugasnya memerlukan waktu untuk konfirmasi ke koleganya bahwa saya tidak perlu visa. Setelah bertanya tujuan dan durasi kunjungan saya, petugas tersebut mengembalikan passport seraya berkata: selamat datang di Maroko! Dari Airport menggunakan taxi kami langsung menuju Riad Dar Karima, hotel tempat kami menginap, di kawasan Medina (kota tua). Medina ada hampir di semua kota di Maroko. Sejak menginjakkan kaki di Medina saya merasa bahwa tempat ini sangat menarik sekaligus rumit. Medina dikelilingi tembok-tembok, dipenuhi jalan-jalan yang kecil dan gang-gang yang sempit, diramaikan pasar-pasar tradisional, warung teh, restoran lokal dan disejukan masjid-masjid bersejarah. Mobil, motor, sepeda, pejalan kaki dan keledai pengangkut barang hilir mudik di dalamnya. Setiap Medina memiliki sejarah, keunikan dan keindahan tersendiri.

Di Rabat lah kami menemukan warung lokal yang menyajikan makanan khas Maroko (tajine) paling enak. Warung itu kami temukan setelah beberapa kali tersesat di lorong-lorong sempit yang berujung di pasar tradisional. Tempat ini hanya dikunjungi orang lokal dan kami kesulitan berkomunikasi karena pelayannya berbahasa Arab. Untung ada seorang pemuda baik hati yang bisa berbahasa Prancis dan membantu untuk memesan makanan. Kami memilih tajine daging kambing yang dicampur dengan sayuran dan kentang disajikan dalam wadah tembikar panas. Ada satu restoran lokal namanya la liberation menyediakan menu dalam Bahasa Prancis dan berada tidak jauh dari Riad Dar Karima. Restoran ini menghidangkan menu lokal yang cukup enak dan murah, favorit saya: kambing bakar, kentang goreng dan salad. Selama di Rabat kami selalu makan malam disana menghindari tersesat malam-malam dalam Medina yang temaram! Kemampuan berbahasa Arab dan Prancis sangat berguna di Rabat karena kebanyakan orang lokal tidak bisa berbahasa Inggris. Apalagi selama liburan kami biasanya berpetualang sendiri tanpa pemandu wisata. Biasanya jasa ini kami gunakan saat mendatangi situs-situs bersejarah saja. Sedangkan mengunjungi pasar-pasar tradisional dan mencicipi kuliner lokal menjadi agenda wajib. Kami juga mengandalkan transportasi publik seperti taxi dan sering berjalan kaki kemana-mana. 

Selain Medina tempat wisata yang wajib dikunjungi di Rabat adalah Hassan Mosque and Tower, Oudaya Kasbah dan Chellah. Menurut saya destinasi yang cukup atraktif selain Medina adalah Oudaya Kasbah. Tempat ini dibangun pada abad ke 12 dan dulunya rumah imigran dari Andalusia, suku Arab dan sultan-sultan yang berkuasa di Maroko. Berbeda dengan Medina yang ramai dan bising, Kasbah lebih sepi dan tenang. Menyusuri lorong-lorongnya terlihat pengaruh arsitektur peninggalan bangsa Moor yang kental di pintu dan dinding rumah-rumah yang di dominasi cat putih dan biru. Seorang pemuda lokal berbahasa Prancis yang kami lihat di gerbang mengikuti kami menyusuri area pemukiman dan kadang-kadang sedikit menjelaskan tentang sejarah Oudaya Kasbah tanpa diminta. Sampai di ujung perumahan dan mendekati taman Andalusia kami berpisah dan memberikannya tips dengan sedikit terpaksa. Karena kami tidak minta dipandu dan yang bersangkutan terus mengikuti kami. Kejadian seperti ini kami hadapi beberapa kali dalam perjalanan selanjutnya di Maroko. Kami memutuskan beristirahat di taman Andalusia sambil minum teh khas Maroko yang terbuat dari daun mint segar. Setelah itu menghabiskan waktu di Pantai Rabat sambil menikmati senja yang merambat perlahan di Ibukota.

Keesokan harinya kami mengunjungi Chellah yang merupakan necropolis romawi dan muslim (abad pertengahan) yang merupakan situs bersejarah UNESCO di Rabat. Setelah membayar karcis masuk, pengunjung bisa menjelajahi kawasan ini dengan atau tanpa pemandu wisata. Kami memilih pemandu wisata (berbayar) yang katanya bisa berbahasa Italia. Tempat wisata ini mempresentasikan sejarah dan reruntuhan bangunan bangsa romawi seperti roman forum, triumphal arch, temple dan aqueduct. Disamping itu juga ada reruntuhan kuburan penguasa merenid, masjid dan madrasah. Tanaman seperti buah zaitun dan tin tumbuh subur dan hidup bersama koloni burung bangau yang bersarang di puing-puing reruntuhan. Pemandu wisata kami berbicara dalam Bahasa Italia yang kurang jelas menurut suami saya. Berulang kali dia menirukan suara burung bangau yang beterbangan, klak klak klak, bunyinya. Hanya itu yang saya ingat dari perjalanan kami di Chellah. Kemungkinan terbesar karena kemampuan Bahasa Italia saya yang sangat terbatas atau pemandu wisata kami lebih sering menirukan suara elang daripada menjelaskan tentang situs bersejarah ini hahaha. Bersambung.



6 thoughts on “Pesona Negeri Maghribi – Rabat, perpaduan masa kini dan masa lalu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *