Pesona Negeri Maghribi – Chefchaouen, Mutiara Biru yang molek

Dari Rabat kami melanjutkan perjalanan ke Chefchaouen yang terletak sekitar 165 kilometer dari Gibraltar. Kota ini juga terkenal dengan julukan mutiara birunya Maroko. Kami kesana dengan bus umum yang isinya masyarakat lokal dan beberapa turis asing. Butuh waktu sekitar lima jam dari Rabat ke Chefchaouen dan bus kami berhenti dua kali untuk rehat (makan/minum) dan ke toilet. Kalau naik bus umum atau mengendarai mobil pribadi di Pulau Jawa dan lewat tol biasanya berhenti di rest area. Nah di Maroko tempat rehatnya di restoran kecil atau warung makan yang sepertinya mitra perusahaan bus yang kami tumpangi. Karena di perhentian ini ada agen yang menjual tiket sekaligus tempat bus menurunkan atau mengambil penumpang. Di tempat ini makanan yang tersedia berupa tajine atau kebab yang isinya daging atau jeroan domba/sapi! Cukup berat untuk teman minum teh daun mint di sore hari hahaha. Saat bus kami akan berangkat, supirnya mengecek semua penumpang dan kehilangan dua orang yaitu perempuan-perempuan Tiongkok yang duduk persis di samping kami! Hampir 45 menit semua penumpang termasuk kami menunggu di dalam bus dan ternyata kedua perempuan itu  asik belanja di pasar yang ada di seberang restoran hahaha. Kami sampai di Chefchaouen hampir maghrib dan langsung menuju hotel Casa Miguel yang berada di distrik Dif Andalus di tengah Medina. Dijemput petugas hotel, kami  berjalan kaki dari perhentian bus di alun-alun kota (Outa El Hammam). Tidak mungkin naik mobil karena konturnya yang berbukit dengan tangga dan undakan beton dimana-mana. Untung jaraknya tidak terlalu jauh dan kami terbiasa dengan bawaan sedikit (travel light), jadi tidak terlalu sulit jika harus menyeret koper turun naik tangga.

Petugas hotel perempuan yang menyambut kami di resepsionis berbahasa Spanyol dan Inggris. Di kawasan utara Maroko kebanyakan orang berbahasa Arab dan Spanyol. Berbeda dengan Rabat dimana bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Arab dan Prancis. Sampai di hotel kami langsung mandi dan pergi lagi karena sangat lapar dan sudah waktunya makan malam. Awalnya kami ingin makan di restoran lokal yang tidak jauh dari hotel dan terkenal cukup enak yaitu Beldi Bab Ssour. Tapi malam itu restorannya penuh dan kami harus menunggu agak lama jika ingin dinner disana. Karena sudah lapar dan tidak sabar menunggu akhirnya kami cari warung lokal terdekat dan memutuskan makan malam di Restoran El Wiam. Tempatnya lebih sempit tapi begitu kami masuk di dalamnya sudah penuh sesak dengan turis-turis kebanyakan dari Tiongkok. Saya pesan tajine daging domba  sedangkan suami saya makan tajine ikan tuna, menurut lidah kami rasanya biasa saja. Masih lebih enak tajine yang kami makan di tengah pasar di Rabat. Kebanyakan restoran lokal disini menyediakan buku menu dalam Bahasa Inggris dan Prancis jadi lebih mudah memesan makanan. Chefchaouen sangat turistik, indah, kecil, tenang dan berada di atas bukit, sangat cocok untuk bersantai dan menjauh dari keramaian kota. Selama berada tiga hari dan dua malam disana kami sangat menikmati waktu saat menjelajahi Medina yang menakjubkan.Kadang-kadang berhenti mengagumi lorong-lorong dan sudut-sudutnya yang memikat dengan warna biru yang menenangkan. Kami juga mengunjungi pasar lokal (Souk) yang menjual berbagai kerajinan tangan. Yang paling banyak kami lihat adalah karpet berber dari bulu domba dengan warna-warna memikat mata. Buat kami yang tidak mau repot dengan oleh-oleh, membeli karpet bukan prioritas utama. Hal yang paling penting mendapatkan pengalaman, memahami budaya setempat dan mencicipi kuliner lokal. It is what money can’t buy

Masyarakat lokal di Chefchaouen ini cukup ramah dan santai, kalaupun ingin belanja di pasar kita tidak merasa terpaksa atau terdesak untuk membeli seperti di Fes atau Marrakesh. Saya ingat saat kami sedang berhenti di sebuah pojok dalam Medina dan suami saya sedang mengambil beberapa foto dengan kameranya. Lalu lewat seorang nenek sambil melambai-lambaikan tangannya pada kami dan berbicara dalam Bahasa Arab. Kami tidak mengerti dan menanyakan ke seorang remaja yang kebetulan lewat dan bisa berbahasa Inggris. Nenek itu ternyata mau mengajak kami ke rumahnya. Namun sayangnya hari itu kami berencana pergi hiking ke Spanish Mosque yang berada di luar Medina. Karena tidak punya banyak waktu dan harus bergegas pergi, dengan berat hati kami menolak tawarannya. Cuaca cukup cerah dan panas, sepanjang perjalanan kami bisa menikmati alam dan vegetasi khas Afrika Utara. Tanaman kaktus tumbuh subur dimana-mana dan domba-domba yang berkeliaran mencari rumput-rumput muda. Mungkin karena binatang-binatang itu hidup bebas, rasa dagingnya lebih gurih dan enak menurut saya. Kenyataannya selama dua minggu di Maroko hampir tiap hari kami makan daging domba atau kambing. Selain enak ya memang itulah lauk pauk utama orang Maroko hahaha. Dalam perjalanan hiking kami bertemu seorang bapak tua yang menyapa dengan ramah dalam Bahasa Spanyol. Beliau menanyakan dari mana negara asal kami, setelah saya jelaskan beliau menjabat tangan kami dengan erat dan meminta saya membaca surat Alfatihah. Bapak itu tidak percaya kami muslim, mungkin karena tampang dan kulit saya yang agak oriental sedangkan suami dari Italia.  Beberapa kali orang-orang disini menyapa saya sambil berkata “ni hao” yang saya balas dengan senyuman. Setelah saya selesai membaca surat Alfatihah si bapak memeluk kami dan berlalu sambil mengucapkan salam yang kami jawab dengan Alaikum Salam! Dari Spanish Mosque  kita bisa melihat panorama kota Chefchaouen dari ketinggian. Rute hiking kesana tidak sulit dan hanya butuh waktu sekitar 45 menit dari Medina.

Pulang dari Spanish Mosque kami kembali ke Medina tapi sebelumnya mampir makan siang dulu di sebuah warung yang dipenuhi orang-orang lokal. Ini salah satu indikasi bahwa makanannya otentik dan enak. Tempatnya ramai, bising, cukup panas, penuh asap masakan tapi kami tetap mau makan disana hahaha. Kali ini kami memesan kebab ayam, daging ayam yang telah dibumbui lalu ditusuk dengan kawat dan dibakar seperti sate, ditaburi daun ketumbar dan bawang mentah, rasanya cukup enak. Entah karena kami sudah terlalu lapar karena makan siang agak telat dan sudah hampir jam 2 siang. Kalau di Indonesia kita makan sate pakai lontong, ketupat atau nasi disini satenya disajikan dengan kentang goreng dengan porsi yang cukup besar. Saya lupa nama restorannya, yang saya ingat letaknya tidak jauh dari Outa El Hammam. Chefchaouen adalah kota yang paling menarik dan indah sepanjang perjalanan kami di Maroko. Di kota ini bersiaplah membawa kamera atau HP dengan memori yang cukup besar karena terlalu banyak sudut, lorong, warna-warni dan detail yang ingin diabadikan sebagai kenang-kenangan yang tak terlupakan. Selain Medina, Souk dan Spanish Mosque, tempat wisata yang cukup menarik adalah Kasbah yang berada tidak jauh dari alun-alun. Disana kami naik ke Portuguese Tower dan menikmati pemandangan Medina dan taman bergaya Andalusia. Kami datang kesana sekitar jam 8.30 pagi, masih sepi dan  lebih leluasa menikmati pemandangannya atau foto-foto disana hahaha. Semua tempat yang kami kunjungi di kota ini bisa ditempuh berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap di Medina. Bersambung.



2 thoughts on “Pesona Negeri Maghribi – Chefchaouen, Mutiara Biru yang molek”

  • kotanya cantik ya, kota tua dengan tembok bercat biru. mirip2 dengan kota jodhpur di india. aku penasaran dengan nenek yg ngundang makan ke rumah. itu beneran apa scam ya? karena aku juga pernah ditawari seperti itu waktu travelling tapi gak bisa karena sorenya udah harus terbang. ada yg mengatakan itu semacam scam di tempat2 wisata,
    jadi orang maroko tiap hari makan kambing domba? wah cocok nih seleranya

  • Iya, cakep kotanya. Nah itu aku gak tau juga karena kami gak ngalami. Tapi kalo scam di pasar2 Fez atau Marrakesh emang ada sih, kayak maksa2 beli dagangannya. Iya, makanan utama, enak banget dan loe pasti betah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *