Kemurnian dan keasrian alam Negeri Helvetica

Dulu waktu saya sedang menyiapkan dokumen-dokumen untuk mengurus izin tinggal di Swiss saya harus mencari informasi di website kedutaan dan berkomunikasi dengan petugasnya. Berbeda dengan visa turis yang diurus melalui VFS, izin tinggal langsung ditangani kedutaan Swiss. Waktu itu saya penasaran mengapa singkatan untuk negara ini CH dan mata uangnya CHF. Confeoderation Helvetica (CH) adalah nama latin Switzerland yang artinya Swiss Confederation dengan mata uang Confeoderation Helvetica Franc (CHF). Sebelum pindah kesini saat orang menyebut Switzerland yang saya bayangkan adalah cokelat yang enak, gunung berselimut salju, jam tangan mahal dan bank privat dengan nasabah kaya raya. Setelah tinggal di sini beberapa tahun, ada satu hal yang identik dengan Swiss dalam benak saya, yaitu alam yang permai terutama sungai dan danaunya yang biru dan jernih. Sungai-sungai di negeri ini mengalir dari hulu ke hilir bahkan sampai ke kota dengan kejernihan yang sama. Di ibukota Swiss (Bern) kita bisa menikmati keindahan sungai Aare dengan warna hijau toska yang memanjakan mata. Pemandangan seperti ini sulit ditemui di kota-kota negara tetangga seperti Italia, Prancis, German. Coba deh perhatikan warna sungai Seine di Paris dan Rhine di Cologne atau kanal-kanal di Milan dan Amsterdam.

Saat musim panas seperti sekarang, kami berusaha pergi hiking dan menikmati keelokan alam Swiss. Salah satu tujuan dan rute hiking dengan pemandangan terindah adalah Sungai Verzasca yang terletak di Canton Ticono di selatan Swiss. Canton ini menggunakan Bahasa Italia sebagai bahasa resminya dan berbatasan dengan wilayah Lombardia dan Piemonte Italia. Perjalanan dengan kereta api dari Bern ke Locarno, yang terletak di tepi Danau Maggiore, membutuhkan waktu sekitar 3.5 jam dengan 2x transit di stasiun Lucerne dan Bellinzona. Kami menginap 2 malam di Locarno untuk menikmati keindahan danau dan hiking di sepanjang sungai. Route hiking cukup mudah melewati tepian sungai, keluar-masuk hutan sekunder, desa-desa kecil dengan rumah-rumah pertanian bergaya rustik. Kami mulai berjalan kaki dari Desa Lavertezzo yang terkenal dengan pemandangan sungai dan jembatan romantis Ponte de Salti. Dari desa ini kami hiking sekitar 4 jam-an (13km), kadang-kadang berhenti untuk istirahat dan duduk di batu-batu besar dan merendam kaki di sungai. Saya ingat kami kehabisan bekal air minum dan kehausan di tengah perjalanan sementara cuaca cukup panas. Untungnya kami temukan sumber air minum di pancuran umum (public fountain) desa terdekat dan minum sepuasnya sambil mengisi botol air minum kami. Satu hal yang paling saya sukai dari Swiss adalah pancuran umum yang ada dimana-mana dan bisa diminum  kecuali ada tulisan yang melarangnya : Kein Trinkwasser /L’eau non potable/Acqua non potabile. Kalau liburan ke Swiss dan jalan-jalan di kota tidak perlu beli air mineral, karena selain harganya mahal toh ada pancuran umum yang airnya bisa diminum dan diambil gratis oleh siapa saja. 

Minggu lalu kami hiking di sekitar Lungernsee (Danau Lungern) yang berada di Canton Obwalden yang terletak di Swiss tengah. Kami naik kereta api dari Bern ke kota Lungern dengan perjalanan sekitar 2 jam dengan satu kali transit di stasiun Interlaken Ost. Setelah sampai kami berjalan kaki dari stasiun menuju tepian danau melewati rumah-rumah penduduk, hotel serta kawasan camping. Dari pinggir danau kami berjalan memasuki kawasan pedesaan dan kadang-kadang berpapasan dengan petani-petani Swiss yang hilir mudik dengan traktor atau mobil pick up. Route hiking ini cukup sulit buat saya dengan jalanan yang terjal dan menanjak tanpa jeda sepanjang 300m. Saya kehabisan napas dan hampir menyerah di tanjakan pertama. Namun bayangan keindahan danau dari ketinggian memacu semangat untuk terus berjalan plus dukungan suami yang super sabar hahaha. Selain itu batu-batu besar, jalan setapak di pinggir tebing yang curam dan beberapa air terjun menjadi rintangan yang cukup berarti. Sepatu hiking dengan kualitas baik dan tahan air merupakan keharusan demi keselamatan dan kenyamanan selama hiking. Setelah berjalan kaki sekitar 1,5 jam, karena saya sering berhenti kehabisan napas dan minum, kami sampai di ketinggian 400m dari danau. Dari titik ini pemandangan indah terhampar di depan mata. Terbayar sudah kesulitan dan kelelahan selama pendakian, no pain no gain indeed! Kami beristirahat makan siang di sini sambil mengagumi keindahan danau dan menikmati bekal somay yang saya siapkan dari rumah. Setelah makan kami mulai berjalan menuruni bukit dan kembali melewati pedesaan, padang rumput dan hutan-hutan sekunder. Di perjalanan kami melintasi  padang rumput dengan kupu-kupu yang beterbangan di kawasan Schmetterlingspad/butterfly path atau jalur kupu-kupu. Dari sekitar danau, sampai ke ketinggian 400m dan turun lagi ada seekor lebah yang mengikuti kami. Di perjalanan turun melintasi air terjun kami memang melewati sarang lebah yang cukup besar di ranting pohon. Suami saya mengingatkan dengan isyarat agar tidak bersuara dan berjalan dengan cepat melewati pohon itu.

Satu lagi danau yang cukup terkenal dan molek adalah Blausee atau Danau Biru yang terletak di kawasan natural park atau cagar alam yang berada di dataran tinggi Bernese Oberland atau dataran tinggi Bern yang terletak di Canton Bern. Dari Bern kami naik kereta api ke stasiun Frutigen dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dan melanjutkan perjalanan dengan bus sekitar 15 menit menuju Danau Biru. Kami mengunjungi tempat ini di musim salju dan hanya berjalan-jalan di sekitar danau tanpa kegiatan hiking. Danau bening dan romantis ini dikelilingi hutan pinus yang rindang dengan legenda cinta yang pilu. Suatu waktu di masa lalu, seorang perawan mati bunuh diri menceburkan diri di dasar danau karena kekasih hatinya telah mati. Di hari itu, warna danau berubah menjadi sangat biru seperti mata sang perawan. Faktanya, danau ini terbentuk oleh tanah longsor 15,000 tahun yang lalu. Air danau sebening kristal berasal dari mata air yang berada di bawahnya dan menjaga temperatur dingin danau ini  menjadi tempat ideal untuk berkembangbiaknya ikan Trout (www.swissvistas.com/blausee.html). Jika menyukai liburan dengan petualangan di alam terbuka dan ingin menikmati bentang alam Swiss menurut saya waktu terbaik adalah di musim panas. Namun kota-kota besar seperti Zurich, Lucerne dan Geneva termasuk Ibukota Swiss (Bern) juga resort-resort seperti St. Moritz, Zermatt dan Grindelwald masih tetap bisa dinikmati di musim dingin kok tanpa susah-susah hiking. Bisa naik cable car atau kereta gantung ke puncak-puncak bukit untuk menikmati  pemandangan desa-desa Swiss yang berselimut salju di resort-resort tersebut. Liburan seperti apa yang kalian sukai, berpetualang di alam terbuka atau berbelanja dan ngopi-ngopi di kota?



6 thoughts on “Kemurnian dan keasrian alam Negeri Helvetica”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *