Berurusan dengan Polisi Swiss

Suatu hari di musim salju saya ngopi-ngopi dengan teman saya sebut saja namanya Paul. Pria setengah baya berkebangsaan Prancis dan Swiss ini teman praktek Bahasa Prancis sejak saya menetap disini. Paul aslinya orang Alsace – France tapi sudah menetap di Swiss 20 tahun, istrinya berdarah Swiss dan mereka punya sepasang anak remaja. Sampai bulan Maret tahun ini kami masih ngopi sekali seminggu tapi untuk sementara break dulu akibat pandemi Covid-19. Selama 3 tahun sudah tiga kali kami pindah-pindah kedai kopi. Tahun pertama kami ngopi di tempat yang berada dalam perpustakaan Universitas Bern – Lesbar Café Lounge – tidak jauh dari Zytglogge di kawasan kota tua. Tempatnya cukup luas, tidak terlalu berisik, pengunjung kebanyakan mahasiswa dan harga kopinya standard. Tahun kedua kami pindah ke kedai kopi di dekat stasiun tram karena kantor Paul pindah ke kawasan tersebut. Tempat ini – Monnier Confiserie – selalu dipenuhi orang-orang lansia, cukup ramai, berisik dan harganya lebih mahal. Kadang kami harus duduk berdesak-desakan dengan oma-oma atau opa-opa dan merasa gak nyaman. Akhirnya kami pindah ke kedai kopi Eichenberger dekat Barenplatz. Tempatnya lebih kecil, tidak terlalu ramai, kebanyakan pelanggannya kaum pekerja dengan harga standard. Di tempat ini saya agak kesulitan berkomunikasi karena entah mengapa setiap saya kesana ketemu pramusaji yang sama. Perempuan berambut coklat dan ramah ini bisa berbahasa Jerman dan Spanyol. Saat pertama kali ngopi di sana saya datang lebih awal dari Paul. Saya berusaha mengingat-ingat Bahasa Spanyol yang pernah saya pelajari dulu. Akhirnya setelah menemukan kata yang tepat saya pesan coklat panas dan katakan sedang menunggu teman hanya dengan tiga kata, chocholato, esperando, amigo! Sepertinya dia mengerti karena perempuan itu mengangguk, menghilang dan kembali dengan segelas coklat panas. Di kedai kopi Lesbar saya tidak mengalami kendala bahasa karena pramusajinya bisa berbahasa Inggris. Sedangkan di Monnier saya bisa berkomunikasi dalam bahasa Prancis. Duh, sudah waktunya bagi saya belajar bahasa Jerman atau dialek Swiss Jerman tepatnya tapi rasanya sulit karena masih berusaha memperlancar Bahasa Prancis dan Italia. Saya tidak mampu belajar tiga bahasa dalam waktu bersamaan. 

Ohya balik ke cerita urusan dengan polisi yang terjadi di musim salju tahun pertama saya tinggal di Swiss. Siang itu setelah ngopi dengan Paul di depan warung kopi Lesbar kami berpisah dan saya melanjutkan perjalanan ke supermarket untuk belanja grocery. Di kedai kopi itulah saat terakhir saya memegang dompet setelah membayar di kasir. Selesai belanja dan ketika membayar di mesin self-checkout supermarket saya baru sadar bahwa dompet saya sudah tidak ada. Saya tinggalkan belanjaan dan jelaskan ke petugasnya dompet saya hilang. Saya kembali ke Lesbar dan menanyakan jika dompet tertinggal disana kemudian memeriksa jalan-jalan yang saya lalui ke supermarket hasilnya nihil. Agak panik saya telpon bank (Swiss dan Indonesia) untuk memblokir kartu kredit dan debit. Kemudian melangkah ke kantor polisi yang berada di dalam komplek stasiun kereta api. Petugas polisi di sana menyarankan untuk menunggu seminggu dan mengecek di kantor walikota yang mengurus barang-barang hilang. Kebanyakan barang hilang yang ditemukan dititipkan disana. Saya pikir mustahil harus menunggu selama itu karena dua minggu lagi saya dan suami harus berangkat ke Italia untuk libur natal dan tahun baru naik pesawat. Saya memerlukan kartu izin tinggal,yang hilang bersama dompet, untuk bisa check in di bandara. 

Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke markas polisi kota Bern. Untuk pertama kalinya saya mengunjungi kantor polisi selama tinggal di Eropa. Di Indonesia pernah sekali mengurus surat SKCK di kantor polisi untuk mendapatkan izin tinggal dari kedutaan Swiss – Jakarta. Waktu tinggal dan kuliah 1.5 tahun di Belanda saya pernah berurusan dengan polisi imigrasi yang membantu pengurusan izin tinggal tidak lama setelah menginjakkan kaki di negeri Kincir Angin. Itupun seingat saya dikelola dan dilakukan di kampus secara kolektif dengan mahasiswa Indonesia lainnya. Begitu sampai di kantor polisi Bern saya bertemu polisi perempuan berbahasa Jerman yang di duduk di resepsionis. Saya jelaskan bahwa saya hanya bisa berbahasa Inggris atau Prancis. Polwan muda itu memberikan isyarat dengan tangannya agar saya menunggu kemudian menelpon seseorang. Tidak lama kemudian dari pintu kaca muncul polisi pria, muda, gagah, tinggi dan pirang berbalut seragam biru menyambut saya dengan ramah dalam Bahasa Inggris. Saya dibawa ke ruangannya yang tidak jauh dari meja resepsionis. Ruang kerja polisi itu tidak terlalu luas tapi rapi dan bersih, minim perabotan hanya ada meja-kursi-komputer dan tempat gantungan jaket. Polisi muda itu duduk di seberang meja dan menanyakan masalah saya sambil mengatakan bahwa ini kesempatan baik untuknya menggunakan berbahasa Inggris hahaha. Saya jelaskan kronologi dan situasinya termasuk kebutuhan mendesak untuk mendapatkan kartu izin tinggal yang baru karena saya harus pergi ke Italia. Polisi itu mendengarkan sambil mengetik sesuatu di komputernya dan menanyakan apakah saya berencana claim ke asuransi atas kehilangan tersebut. Kami memiliki asuransi lost and fire yang menanggung  kehilangan dompet, sepeda, kunci rumah dan kerusakan/kebakaran pada apartemen yang kami sewa. Saya membutuhkan surat keterangan dari kantor polisi (criminal record) untuk claim ganti rugi kehilangan dompet ke perusahaan asuransi. Polisi itu menanyakan apa saja yang ada di dalam dompet termasuk jenis dompetnya. Uang tidak termasuk karena perusahaan asuransi tidak akan menggantinya berapapun jumlahnya.

Saya jelaskan secara rinci dan tambahkan bahwa dompet hitam (furla) itu hadiah ulang tahun dari suami saya. Sembari tersenyum dan dengan sabar polisi itu berkata : “maaf bu, tapi saya tidak bisa memasukkan hal sentimental itu di dalam catatan kriminal ini” yang saya tanggapi dengan derai tertawa. Sekitar dua jam saya berada di sana. Sebenarnya untuk mengurus surat keterangan dari polisi itu tidak lama sekitar 15 menit dan bayar CHF 20 dengan tanda terima resmi. Tapi yang lama cerita kesana kemari dengan pak polisi Swiss yang super baik dan ramah itu, hahaha. Saya dibantu dan dilayani dengan sangat profesional. Surat keterangan polisi sangat esensial untuk pengurusan kartu-kartu penting seperti kartu kredit, debit, kartu abonemen kereta api dan kartu izin tinggal. Berbekal surat resmi dari polisi esok harinya saya pergi mengurus kartu izin tinggal di kantor walikota. Tumben hari itu sepi dan urusan selesai dalam waktu 15 menit sejak sampai di meja petugas dan membayar di meja kasir sekitar CHF 90. Menurut petugasnya paling lambat seminggu kartu baru sudah sampai di mailbox saya. Namun kenyataannya tiga hari kemudian saya sudah mendapatkan kartu maha penting itu. Menurut pengalaman saya, paling tidak sampai saat ini, mengurus surat-surat di kantor walikota dan polisi Swiss cukup efisien dan tentu selalu membayar biaya administrasi. Demikian juga dengan bank, dalam 5 hari kerja saya sudah menerima kartu kredit dan debit yang baru. Hal yang paling rumit itu berurusan dengan kantor pajak Swiss. Mungkin nanti setelah punya pengalaman yang cukup saya bisa tuliskan ceritanya hahaha.  Bagaimana dengan kalian? pernahkah berurusan dengan polisi? 

Note : Foto pertama dari Sergio Rimoldi dan foto kedua dari website polisi kanton bern 



4 thoughts on “Berurusan dengan Polisi Swiss”

  • Saya pernah kehilangan topi dalam perjalanan kereta api Milan – Zurich. Topi wool ‘bakers boy’ itu baru saja saya beli di Paris. Jadi saya fikir saya harus menemukan topi kesayangan itu kembali. Sampai di Zurich saya langsung ke counter Lost and Found, dimana saya diminta untuk mengisi formulir. Nasib baik, seseorang menemukan topi saya tersebut dan mengirimkannya ke bagian Lost and Found. Saya sangat bahagia sekali….. hanya saja saya harus membayar administration fee sebesar €20, sedangkan topi tersebut saya beli sekitar €40.

Leave a Reply

Your email address will not be published.